Rabu, 12 Februari 2014

Kesabaran tak pernah menerangkan apa- apa

Hantu- Hantu
Apa yang membuatmu gemetar kini
Malam hanya sesuatu yang kerap lewat
Apa yang belum kau ketahui tentang perihnya
Kekasih yang dengki, teman yang pudar di angkasa

Kaulah seorang yang tak pernah menyelesaikan sesuatu
Karena segala sesuatu terbelah di kepalamu

Apa yang membuatmu ragu- ragu di hadapan masa lalu
Penyesalan adalah binatang yang tangguh
Dengan cakarnya berjalan tegap di bawah kulit
Dan membuatmu terluka

Sekarang, rasakan irisannya
Rasakan irisannya yang samar pada darahmu
Kebencian pada ayah dan kecemburuan pada ibu
Rasa asing di antara saudara- saudaramu
Rumah- rumah yang menyalakan keputusasaan
Lampu- lampu telah padam, kekasihku
Biarkan aku menyelesaikan malam
Dengan menuliskan baris- baris ini
Dan mengalirkan mayatmu ke dalam mimpi

Bagaimana aku merindukanmu setelah ini
Hidup di tengah hantu dan kampung halaman
Tak ada yang aku sanggup tinggalkan
Lampu yang kamu padamkan
Suaramu di pagi hari

Atau kekecewaanku sendiri
Ketika meninggalkan rumah diam- diam
Dan tahu tak ada yang mengejarku
Selain angin,, selain bercak- bercak hujan
Yang bertahan cukup lama di kepalaku

Aku selalu ingin kembali dari simpang jalan itu
Dan menangis sepuas- puasnya
Aku ingin memukuli tubuhmu keras- keras
Sebab kesabaran tak pernah menerangkan apa- apa


Maut yang tipis di dekat leherku
Siapa yang sungguh mengenalmu
Kamu selalu terpejam
Sejumlah buku di dalam tubuhmu, penuh catatan
Tak pernah bisa ku baca

Nama- nama dusta- dusta
Aku hanya tak ingin menyakiti siapapun
Tidak juga diriku, dengan kesedihanmu, ketakutanmu
Dan ketakutanku pada kesedihan

Aku telah berhenti berdoa
Dan aku tak bisa memilikimu, tiba- tiba:
Gerimis pagi, hatimu yang terluka
Betapa yang kumiliki akan melemahkanmu

Aku mengandalkan cuaca dan hati yang didinginkan
Aku bertahan dengan tidur dan mencintai yang kabur
Dan aku tak bisa kehilanganmu tiba- tiba:
Cintamu yang perlahan; ayat- ayat
Yang membuatku mengenang semua Tuhan

Aku bisa menangis sepuas- puasnya
Atau mengetuk pintu rumah semua teman dan menceritakan
Betapa malam telah menganiayaku sepanjang perjalanan ini
Atau betapa perjalanan ini telah menganiayaku
Sepanjang malam

Aku bisa menghabiskan semua kretek yang kaupunya
Dan memesan bergelas- gelas kopi
Untuk kupandangi sampai dingin
Dan aku bisa membawanya berlari
Melintasi semua horor di kepalaku
Aku bisa menelan semua amoxicillin
Yang tersimpan dii lemariku bertahun- tahun
Atau menantang seluruh mimpi buruk dalam tidurku
Aku bisaa membuat pintu- pintu kabut membawaku
Pulang, ke pagi- pagi
Dimana tak seorang pun peduli pada kerinduanku pada masa depan
Dimana semua orang menyayangiku dan membuatku ketakutan

Ia yang ku cari berada di sini dan tak kemana- mana
Tapi betapa aku bisa kehilangan dirinya
Betapa aku menginginkannya tapi tak tahu untuk apa
Betsapa aku mencintainya dan tak tahu caranya
Betapa aku selalu mencintai sesuatu yang tak bisa ku pahami

Berapa banyak yang bisa kuambil
Dari gerimis
Bangunan mana yang berbicara tentang diriku
Jalan mana menuju rumah masa lalu

Aku tak menemukan kuburku di setiap gang
Pikianku menjadi hantu, tak bisa kembali ke mana- mana
Udara adalah temanku yang kudus
Yang ku hirup dan ku lepaskan
Ia kini  memikul dosa- dosa ibunya dari kejauhan
Tercemar oleh duka dan membuatku kembali hidup
Kembali sekarat

Seandainya aku seoarang putra
Seandainya aku hanya orang yang dicintai

Lihatlah betapa banyak yang diambil dari diriku
Aku bhkan tak bisa memiliki airmataku sendiri
Yang meluncur deras dan menenggelamkan seluruh kota

Aku mendengar suaramu sekali
Jauh sebelum kita bertemu dan tak pernah bertemu lagi
Ruang- ruang dibekukan oleh jarak; hatiku dipenuhi
Pertanyaan- ertanyaan palsu tentang dunia

Malam ini gema dari suara itu
Melumpuhkan pikiran buruk tentang daun- daun gugur
Membuatku pincang dan merindukan rumah

Dimanakan diriku
Selain memudar dalam fiksi- fiksi gagal
Tentang keluarga di manakah kamu?

Bagaimana sesorang dapat memahami kesedihan
Yang tak dikenalnya; kehilangan yang sederhana?
Setiap orang messiah bagi dirinya sndiri
Tak ada jalan keluar

Kamu membangunkanku pagi- pagi
Dengan tangan yang nyata dan pasti
Aku tak punya kebiasaan itu lagi
Masuklah ke dalam selimutku menjelang fajar
Dan jadilah mimpi ketika aku lelap
Makin buruk makin baik, aku akan hidup tanpa kejutan

“ mama sudah gila, lebih baik tidak bertemu lagi
Lagipula dia cantik dan terluka, dia sempurna
Aku akan keluar; itu sebuah kebiasaan”
Aku berjalan dengan pakaian lengkap musim dingin
Mencari- cari cacat untuk ku catat
Hujan hanya rintik- rintik, aku hanya ingat angka- angka
Tak seoarang pun bernama angka

Hanya hujan rintik- rintik, aku berjalan seperti kalender
Tak ada mantan pacar atau kawan lama
Seluruh kota telah menjadi barang bekas

-Dina Oktaviani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar