Hantu-
Hantu
Apa
yang membuatmu gemetar kini
Malam
hanya sesuatu yang kerap lewat
Apa
yang belum kau ketahui tentang perihnya
Kekasih
yang dengki, teman yang pudar di angkasa
Kaulah
seorang yang tak pernah menyelesaikan sesuatu
Karena
segala sesuatu terbelah di kepalamu
Apa
yang membuatmu ragu- ragu di hadapan masa lalu
Penyesalan
adalah binatang yang tangguh
Dengan
cakarnya berjalan tegap di bawah kulit
Dan
membuatmu terluka
Sekarang,
rasakan irisannya
Rasakan
irisannya yang samar pada darahmu
Kebencian
pada ayah dan kecemburuan pada ibu
Rasa
asing di antara saudara- saudaramu
Rumah-
rumah yang menyalakan keputusasaan
Lampu-
lampu telah padam, kekasihku
Biarkan
aku menyelesaikan malam
Dengan
menuliskan baris- baris ini
Dan
mengalirkan mayatmu ke dalam mimpi
Bagaimana
aku merindukanmu setelah ini
Hidup
di tengah hantu dan kampung halaman
Tak
ada yang aku sanggup tinggalkan
Lampu
yang kamu padamkan
Suaramu di pagi hari
Atau
kekecewaanku sendiri
Ketika
meninggalkan rumah diam- diam
Dan
tahu tak ada yang mengejarku
Selain
angin,, selain bercak- bercak hujan
Yang
bertahan cukup lama di kepalaku
Aku
selalu ingin kembali dari simpang jalan itu
Dan
menangis sepuas- puasnya
Aku
ingin memukuli tubuhmu keras- keras
Sebab
kesabaran tak pernah menerangkan apa- apa
Maut
yang tipis di dekat leherku
Siapa
yang sungguh mengenalmu
Kamu
selalu terpejam
Sejumlah
buku di dalam tubuhmu, penuh catatan
Tak
pernah bisa ku baca
Nama-
nama dusta- dusta
Aku
hanya tak ingin menyakiti siapapun
Tidak
juga diriku, dengan kesedihanmu, ketakutanmu
Dan
ketakutanku pada kesedihan
Aku
telah berhenti berdoa
Dan
aku tak bisa memilikimu, tiba- tiba:
Gerimis
pagi, hatimu yang terluka
Betapa
yang kumiliki akan melemahkanmu
Aku
mengandalkan cuaca dan hati yang didinginkan
Aku
bertahan dengan tidur dan mencintai yang kabur
Dan
aku tak bisa kehilanganmu tiba- tiba:
Cintamu
yang perlahan; ayat- ayat
Yang
membuatku mengenang semua Tuhan
Aku
bisa menangis sepuas- puasnya
Atau
mengetuk pintu rumah semua teman dan menceritakan
Betapa
malam telah menganiayaku sepanjang perjalanan ini
Atau
betapa perjalanan ini telah menganiayaku
Sepanjang
malam
Aku
bisa menghabiskan semua kretek yang kaupunya
Dan
memesan bergelas- gelas kopi
Untuk
kupandangi sampai dingin
Dan
aku bisa membawanya berlari
Melintasi
semua horor di kepalaku
Aku
bisa menelan semua amoxicillin
Yang
tersimpan dii lemariku bertahun- tahun
Atau
menantang seluruh mimpi buruk dalam tidurku
Aku
bisaa membuat pintu- pintu kabut membawaku
Pulang,
ke pagi- pagi
Dimana
tak seorang pun peduli pada kerinduanku pada masa depan
Dimana
semua orang menyayangiku dan membuatku ketakutan
Ia
yang ku cari berada di sini dan tak kemana- mana
Tapi
betapa aku bisa kehilangan dirinya
Betapa
aku menginginkannya tapi tak tahu untuk apa
Betsapa
aku mencintainya dan tak tahu caranya
Betapa
aku selalu mencintai sesuatu yang tak bisa ku pahami
Berapa
banyak yang bisa kuambil
Dari
gerimis
Bangunan
mana yang berbicara tentang diriku
Jalan
mana menuju rumah masa lalu
Aku
tak menemukan kuburku di setiap gang
Pikianku
menjadi hantu, tak bisa kembali ke mana- mana
Udara
adalah temanku yang kudus
Yang
ku hirup dan ku lepaskan
Ia
kini memikul dosa- dosa ibunya dari
kejauhan
Tercemar
oleh duka dan membuatku kembali hidup
Kembali
sekarat
Seandainya
aku seoarang putra
Seandainya
aku hanya orang yang dicintai
Lihatlah
betapa banyak yang diambil dari diriku
Aku
bhkan tak bisa memiliki airmataku sendiri
Yang
meluncur deras dan menenggelamkan seluruh kota
Aku
mendengar suaramu sekali
Jauh
sebelum kita bertemu dan tak pernah bertemu lagi
Ruang-
ruang dibekukan oleh jarak; hatiku dipenuhi
Pertanyaan-
ertanyaan palsu tentang dunia
Malam
ini gema dari suara itu
Melumpuhkan
pikiran buruk tentang daun- daun gugur
Membuatku
pincang dan merindukan rumah
Dimanakan
diriku
Selain
memudar dalam fiksi- fiksi gagal
Tentang
keluarga di manakah kamu?
Bagaimana
sesorang dapat memahami kesedihan
Yang
tak dikenalnya; kehilangan yang sederhana?
Setiap
orang messiah bagi dirinya sndiri
Tak
ada jalan keluar
Kamu
membangunkanku pagi- pagi
Dengan
tangan yang nyata dan pasti
Aku
tak punya kebiasaan itu lagi
Masuklah
ke dalam selimutku menjelang fajar
Dan
jadilah mimpi ketika aku lelap
Makin
buruk makin baik, aku akan hidup tanpa kejutan
“
mama sudah gila, lebih baik tidak bertemu lagi
Lagipula
dia cantik dan terluka, dia sempurna
Aku
akan keluar; itu sebuah kebiasaan”
Aku
berjalan dengan pakaian lengkap musim dingin
Mencari-
cari cacat untuk ku catat
Hujan
hanya rintik- rintik, aku hanya ingat angka- angka
Tak
seoarang pun bernama angka
Hanya
hujan rintik- rintik, aku berjalan seperti kalender
Tak
ada mantan pacar atau kawan lama
Seluruh
kota telah menjadi barang bekas
-Dina
Oktaviani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar